Pages

10 September 2008

akhirnya kumenemukanmu


Suasana masih lengang saat aku tiba di gedung sekolahku. Seperti biasanya, aku pergi untuk membenahi diri di dalam kamar mandi. Makhlum cewek.
Aku menatap wajahku di cermin dan membersihkan kulit mukaku dengan cairan pembersih. Kemudian kusisiri rambutku yang panjang terurai dengan sebuah sisir mungil yang selalu setia menemaniku kemanapun aku pergi. Dan, hmmm, sempurna sekarang.

Diluar aku dengar suara Irawan. Cowo tajir anak pengacara itu rupanya tengah berdiri di areal ini juga. Sepertinya ia sedang berbicara dengan seseorang di ujung ponselnya sana. Dan aku yakin itu Jane, cewek tajir anak pengusaha kaya itu.
Makhlum sekolah ini adalah sekolah faforit di kota ini dimana anak-anak orang kaya bersekolah. Yah, salah satunya Irawan.

Aku melangkah keluar dari kamar mandi itu.
“pagi Cit.” sapa Irawan.
“pagi Ir.”
Jantungku berdebar saat itu. Makhlum aku sudah lama menaruh hati pada cowo yang ada di hadapanku ini. Bukan rahasia lagi kalau banyak cewek yang naksir dia. Dari tampang, tingkah laku dan predikat cowo tajir satu sekolahan, tak heran bila hal itu terjadi.
Hmmm, tapi aku tak mau berharap terlalu jauh. Aku sadar betul siapa diriku. Aku hanyalah seorang anak pengusaha yang usahanya pas-pasan. Sangat tidak seimbang bila dibandingkan dengan Deswita, Cindy apalagi Jane. Bisa membayar uang sekolah pada waktunyapun aku masih beruntung. Mungkin itulah sebabnya aku agak tersingkir dari pergaulan sekolah ini.

“hei! Kok ngelamun aja?” suara Irawan membuyarkan lamunanku.
“enggak, gapapa. Aku duluan ya.” Kataku menimpali.

Irawan menatapku tajam. Akupun berlalu dari hadapannya. “Tumben benerd ia nyapa Gue” kataku dalam hati.

*****
Di kamar tidurku yang rapi, matahari perlahan beranjak meninggalkanku yang masih melamun memikirkan kejadian tadi pagi. Samar-samar aku melihat tatapan mata Irawan yang tajam itu. Oh apa yang terjadi pada cowo tajir itu? Apakah ia salah minum obat semalam? Atau dia abis mimpi aneh? Ah, sudahlah aku tak dapat menjawabnya. Biar saja itu menjadi rahasia yang takkan terpecahkan.

Pagi harinya, seperti biasa aku pergi ke sekolah setelah berpamitan terlebih dahulu dengan ayah ibuku. Sesampainya di sana, seperti biasa aku membenahi diri di dalam kamar mandi. Kemudian aku nongkrong di pagar pembatas sudut koridor sekolah. Ya, kelasku ada di lantai dua. Jadi aku dapat menyegarkan mata terlebih dahulu dari tempat ini sebelum masuk dalam rumitnya pelajaran-pelajaran sekolah. Dari tempat inilah aku dapat mengamati para murid yang sedang menjalin kasih asmara di ujung sekolah. Makhlum tempat itu cukup strategis untuk pacaran. Kadang-kadang, aku sering mengambil gambar mereka yang sedang bermesraan dengan kamera handphonku. Ya, aku suka mengoleksi gambar-gambar itu.

*****

Bel istirahat telah berbunyi. Semua anak berebut keluar untuk menghabiskan waktu istirahatnya. Ada yang pergi ke kantin, ada yang mengerjakan pr untuk mata pelajaran selanjutnya, ada pula yang menemui belahan jiwanya. Saat itu kulihat Irawan dan Jane berjalan bersama. Tak seperti biasanya, tatapan bermusuhan ada diantara mereka. Aku menduga-duga. Apakah mereka putus? Apa yang terjadi diantara mereka? Ah, tapi tak ada gunanya mengetahui hal tersebut. Toh bukan urusanku. Sekilas aku teringat pada kejadian kemarin pagi. Apakah ini ada hubungannya dengan pemandangan yang barusan kusaksikan? Ya, bisa jadi!

Di kelas aku melihat Jane begitu gelisah. Hamper semua pertanyaan Pak Amri guru matematika itu tak dijawabnya dengan benar. Padahal biasanya ia termasuk murid yang paling cerdas dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan Pak amri. Ingin kudekati dia dan menanyakan ada apa sebenarnya antara dia dengan Irawan. Tapi kupikir tak ada gunanya. Aku tahu cara Jane memandang statusku. Apalagi ia menganggapku menjadi saingannya dalam meraih prestasi di kelas. Jadi kuputuskan memendam pertanyaan itu sendiri.

**********

aku tak bisa tidur. Sepertinya kejadian-kejadian yang terjadi di sekolah membuat pikiranku menelisik berusaha untuk mencari kesimpulan yang dapat kutarik. Tapi kubiarkan saja pikiran itu mengembara kemanapun ia suka. Karna aku takkan menemukan jawabannya.

Hari-hari berlalu. Suatu pagi, saat sedang nongkrong di tempat biasa, aku melihat ada pemandangan yang tak biasa di sudut sekolah. Oh ya, itu Jane. Dan siapa yang bersamanya? Seorang cowo yang tak kukenal. Mungkin dia anak kelas lain. Makhlum aku tidak terlalu banyak bergaul di sekolah ini, karena adanya jurang antara si kaya dan si miskin disini. Dan suatu kesimpulan muncul dalam pikiranku. Jane sudah punya pacar baru. Oh alangkah teganya dia mencampakkan Irawan cowo tajir satu sekolahan itu?

Aku mengambil handphon kamera yang dihadiahkan ayahku saat aku sweet 17. diam-diam timbul niatku untuk mengambil beberapa posenya. Dan berhasil. Aku mengambil pose mereka saat tengah berciuman. Aku memandangi sekilas foto itu. Hmmmm, satu lagi koleksi yang akan menghiasi file rahasiaku dalam pc komputerku.

Tetapi alangkah terkejutnya aku saat berbalik dan menyadari siapa yang ada di belakangku sedari tadi. “Irawan!” kataku panik.
“bisa aku pinjam handphonemu?”
aku memberikannya. Ia menyalakan bluetoothnya dan saat itulah aku baru sadar bencana apa yang akan terjadi. Oh betapa bodohnya aku yang telah melakukan semua ini. Aku memukul kening sendiri.
“pleace Ir jangan. Aku ga mau buat masalah sama Jane. Kamu tahukan keluargaku banyak berhutang sama dia?”
“tenang ajalah. Aku engga akan kasih tau siapa yang mengambil gambarnya ini.”
“tapi pleace Ir …”
sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Irawan berlalu menuju kelasnya yang ada di sebelahku. Aku ingin mengejarnya, tapi aku tahu tak ada gunanya. Lebih baik aku menghindari bencana itu. Kubuka gambar itu, kemudian aku menekan tombol pada handphonku. Dan hasilnya, tulisan konfirmasi bahwa gambar telah terhapus. Lega aku sekarang.

*****

Jam istirahat tiba. aku mencari Sela sahabatku. Kuceritakan semua kejadian itu dari awal sampai akhirnya sedetil mungkin. Mendengar semua itu Sela hanya berkata:
“kalo begitu lu musti hati-hati Cit. Bisa-bisa masalah ini melebar ke orang tua kalian. Lu tahukan sifatnya Jane itu? Gue doain deh supaya itu semua ga terjadi.”
“thanks Sel.”

Di luar ada pemandangan yang cukup menyita banyak perhatian. Kami pergi keluar untuk mengetahui apa yang terjadi. Astaga! Ternyata yang kutakutkan terjadi juga. Irawan yang anak pengacara itu tengah menyidang Jane dengan disaksikan banyak orang karena perbuatannya yang kurang beretika itu. Ia juga memperlihatkan gambar yang kuambil itu.
“dasar anak pengacara!” Sela berkata lirih. Tawanya memecah meskipun tidak keras.
“Sel! Keadaan gawat gini masih bisa juga lu ketawa! Gimana kalo dia bilang siapa yang memmotret Jane itu? Gimana kalo dia tahu gue yang ngelakuinnya? Gimana kalo apa yang lubilang tadi bener-bener terjadi? Gimana ….?”
Aku tak sempat meneruskan pertanyaan-pertanyaanku yang meluncur begitu saja saat Sela menutup mulutku dengan tangannya.
“nah, ini yang sekarang harus lulakuin. Tutup mulut!”

*****

Di kamar tidurku aku memandangi semua koleksi gambar-gambar romantis yang kuambil dari sudut lantai sekolah. Oh Tuhan, aku berjanji tak akan melakukannya lagi. Aku memandangi gambar-gambar itu untuk yang terakhir kalinya. Kemudian kuhapus file rahasia yang kulindungi dengan password itu.
“by! My collection!”

tiba-tiba sebuah pikiran mengusik ketenanganku saat aku hamper berada di alam mimpi. Ya, kata-kata Sela tadi. Bagaimana kalau masalah ini sampai ke tangan orang tua kami? Soalnya aku tahu betul sifat Jane itu. Ia pasti membicarakannya dengan kedua orang tuanya. Dan kalau itu terjadi, oh alangkah marahnya mereka kalau tahu anaknya dipermalukan. Apalagi kalau sampai mereka tahu siapa biang keladinya. Citra anak Pak Suandi. Makhlum ayahku pernah meminjam uang pada ayahnya Jane. Dan sampai sekarang kami belum sanggup melunasinya.
“ah sudahlah. Semoga saja hal itu tidak akan terjadi. Kumohon pada-Mu ya Tuhan.” Kataku dalam hati.

*****

Pagi merekah seiring dengan datangnya bulan baru di tahun ini. Ya, ini sudah bulan maret. Aku sudah masuk semester II kelas tiga SMA. Dan pagi itu aku berangkat ke sekolah dengan hati yang masih gundah.
Di sekolah, aku tak dapat berkonsentrasi dengan semua pelajaran karena masih memikirkan hal tersebut. Hingga akhirnya jam pelajaran seni rupapun tiba. hore! Ini pelajaran kesukaanku. Selain ringan, aku juga sangat tertarik pada gurunya yang fangky and gaul.

Anak-anak yang lain merasa senang karena pada jam pelajaran ini mereka dapat lebih bebas.
“sekarang kita membuat peta konsep ya anak-anak. Ibu beri waktu satu jam untuk menyelesaikannya.”
Kemudian ia membagi-bagikan lembar kerja kami.

Kulihat Deswita mengambil tempat di depan Jane dan Cindy. Tiga cewek gaul itu asyik mengobrol. Aku tak tahu pasti apa yang mereka bicarakan, tapi mungkin mereka membicarakan kejadian antara Irawan dan Jane.

Deswita : “Jane runyem amat sih muka lo?”
Jane : “ya gimana gue ga runyem! Coba lu bayangin kalo lu jadi gua. Malu abis digituin!”
Deswita : “ya udahlah Jane, mau digimanain lagi. Udah terlanjur. Lagian lu emang udah jadian sama Reynald kan sekarang?”
Jane : “iya sih. Tapi gua ga akan bisa maafin Irawan seumur hidup. O iya. Gua pingin tau siapa sih yang ngambil foto itu? Lu pada ada pendapet ga?”
Cindy : “mungkin nih, tapi ga pasti ya. Kayanya si Citra cewe belagu itu deh?”
Jane : “ya, bener juga ya.”
Deswita : “uusst jangan asal nuduh gitu dong. Nanti jadi fitnah lagi!”
Jane : “ya terus siapa lagi? Dia kan suka nangkring di pinggiran situ tu!”
Cindy : “gua piker ga salah lagi. Apalagi setau gua nih, dia ada hati sama Irawan.”
Jane : “awas aja dia. Gue bakal bikin dia mengemis-ngemis di hadapan gua. Ok kita liat nanti.”

*****

Satu bulan telah berlalu. Sekarang dampak perbuatanku semakin nyata. Suatu kali aku mendengar ayahku bercerita kepada ibuku bahwa Pak Satrio (ayahnya Jane) mencabut pinjamannya kepadanya. Alhasil, ayahku harus membayar hutang-hutangnya dalam waktu dua minggu. Itu sudah toleransi, itu katanya.

Mendengar itu, aku sangat terperanjat. Ternyata benar apa yang dikatakan Sela yang menjadi ketakutanku itu. Ditambah lagi pada suatu hari ayah dan Ibu memanggilku.
“Citra,” katanya sambil mengusap rambutku.
“ada apa Pak?”
“maafkan ayah dan ibumu ya nak.”
“maksud Bapak?”
“bapak Cuma bisa menyekolahkan kamu sampai SMA saja. Kita harus membayar hutang-hutang itu sesegera mungkin. Jadinya Bapak tak punya cukup uang untuk membayar kuliahmu.”

Aku menangis mendengar keputusan itu. Tapi kuputuskan untuk menerimanya. Mungkin ini hukuman atas kebodohanku waktu itu.

*****

Setelah menyelesaikan ujian akhir nasional, kuputuskan untuk mencari pekerjaan. Aku mendapatkan pekerjaan di sebuah kantor pengacara Hasiholan Napitupulu sebagai ovisegirl. Yah, pekerjaan yang tak dapat mendatangkan banyak uang, tetapi untuk saat ini pekerjaan inilah yang kudapatkan. Yah, tahu sendirilah kondisi bangsa kita, sulit sekali mencari pekerjaan. Lagipula, setidaknya aku dapat mencukupi kebutuhanku sendiri sehingga tak terlalu memberatkan orang tuaku.

Suatu hari saat sedang mengerjakan tugas-tugasku, aku melihat Irawan masuk ke kantor ini. “ada apa dia kesini?” pikirku dalam hati.
Mendadak aku terkesiap. Aku baru sadar kalau dia anak pemilik kantor ini.

“hei Cit, kok disini?” tanyanya penuh selidik.
“enggak gapapa. Kamu sendiri?”
“ya iyalah! Ini kan kantornya bokap.”

Sekilas aku menyesal. Kenapa pertanyaan itu keluar? Toh aku sudah tahu jawabannya.
“kamu kerja disini?”
“iya. Itung-itung bantu ortu.”
“loh kamukan lulusan SMA. Harusnya ada kerjaan yang lebih baik dong. Lagian apa kamu ga kuliah?”
“enggak.” Jawabku singkat.
“kenapa? Otak kamu cukup encer untuk jadi seorang manager, insinyur, atau paling enggak sekretarislah.”
“enggak ada biaya.” Kataku terbata.

Tak tahan rasanya mata ini menahan luapan air mata. Semua musibah ini datangnya bertubi-tubi dan tak terduga. Mendadak aku teringat kejadian itu.

“o iya Ir. Boleh aku tanya sesuatu?”
“boleh-boleh aja.”
“soal foto itu. Apa kamu bilang kalau aku yang mengambil gambar itu sama Jane?”
“oh soal itu. Enggak kok. Lagian itukan udah lama. Basi kali?”
“tapi gara-gara masalah itu buntutnya jadi panjang tau!”
“maksud kamu?”
“engg…. Enggak enggak jadi.”
“enggak jadi gimana? Coba certain!”
“enggak, ….. lupain aja.”

Irawanpun berlalu dengan penuh kekesalan. Aku tahu ia penasaran. Tapi aku tak berani menceritakan semua perihalku padanya. Dari ujung sebuah lorong, kulihat tatapan tajam Irawan menatapku. Sama seperti dulu saat kejadian itu belum terjadi.

*****

Hari-hari berlalu. Sudah sebulan kini aku bekerja di kantor ayahnya Irawan. Kini sudah bulan Juni. Bulan kelulusan yang akan menentukan nasib banyak orang. Salah satunya aku.
Seminggu menjelang pengumuman kelulusanku, aku bertemu dengan Irawan di kantor papanya.
“bisa bicara sebentar Cit?”
“bisa.” Jawabku singkat. Aku menjadi tegang. Apakah yang akan terjadi?
“Cit, maafin aku. Aku sudah tahu semuanya dari Sela. Maafkan aku karna sudah menyusahkan keluargamu dan kamu sekarang ini.”
“enggak apa-apa. Itu memang sudah jadi nasib barangkali.”
“tapi nasib kan bisa dirubah kan?”
“iya.”
“gini Cit. aku sudah membicarakan hal ini sama papah. Dia mau bantu kamu. Berkas perkaranya sudah dibuat dan kalo terbukti bersalah, mereka akan dituntut berat.”
“apa….! Tapi gimana…” aku tak dapat menyelesaikan pertanyaanku karena dipotong oleh Irawan.
“udah tenang aja. Semuanya akan berjalan lancer. Masalah biaya, gratis alias ga usah dipikirin.”
“thanks banget lho Ir.”
“satu lagi.” Irawan menambahkan.
“aku berharap kamu mau terima ini. Beasiswa untuk kuliah kamu.”
“tapi Ir, apa gak terlalu berlebihan?”
“enggak.” Jawabnya mantap.

Hatiku sangat bahagia. Ingin rasanya aku cepat-cepat pulang dan memberitahukan kabar gembira ini kepada ayah dan ibu. Tetapi hari masih siang. Belum jamnya pulang.

“ada satu lagi Cit.” Irawan menambahkan.
“apa?” tanyaku datar.
“aku mencintaimu. Kamu mau gak jadi pacarku?” kata-kata Irawan kali ini benar-benar membuatku terkesiap.
“tapi apa kamu gak malu pacaran sama ovisegirl?”
“makanya kamu harus kuliah. Siapa tahu kamu bisa jadi manager atau paling enggak sekretaris?”
“ok deh.” Jawabku datar. Aku seolah sudah melupakan pertanyaan itu. Tapi tatapan matanya yang tajam itu seolah menuntutku.
“Cit, kamu belum jawab.”
Kata-kata Irawan mempertajam maksudnya. Dan tatapan itu kian meruncing.
“iya.” Jawabku tergesa-gesa.
“ok kalau gitu mulai hari ini kita resmi pacaran.

*****

Pengumuman kelulusanpun tiba. aku menunggu dengan gelisah surat keputusan sekolah. Dan ketika seorang kurier datang membawa surat, aku langsung menyambutnya. Dengan cekatan aku mengambil surat ditangannya dan tanpa berpikir lagi langsung membukanya.
“gimana neng, lulus nggak?”
“lulus pak. Terimakasih ya.”
Kurier itupun berlalu.

Di teras depan rumahku, aku menunggu dengan gelisah Irawan yang berjanji untuk menjemputku ke sekolah.
“ah datang juga kamu akhirnya.”
“yok berangkat sekarang.” Ajaknya cepat.

Mobil hondha Jazz itu meluncur cepat ke sekolah. Di papan pengumuman, tertera hasil UAN para murid. Dan betapa puasnya aku saat mengetahui nilaiku berada di peringkat tertinggi setelah Irawan. Aku bersorak. Tapi Irawan menjadi murung.
“ada apa Ir?”
“enggak gapapa.”
Pertanyaan itu berlalu begitu saja.

*****

Di dalam kamarku, aku membaca sebuah surat yang diselipkan Irawan di dalam tasku.

Bandung, 25-o6-2006

Dear Citra.

Bersama surat ini aku ingin memberitahumu bahwa aku harus pergi ke Singapur untuk meneruskan kuliahku. Ayahku yang membuat keputusan ini. Aku harap kamu bisa menerimanya.
Oh ya, uang dan biaya kuliahmu, beliau yang akan tanggung sampai aku pulang. Aku harap kamu bisa belajar sungguh-sungguh karena setelah kamu lulus kamu akan diangkat jadi asisten pribadiku.
Ya, aku pergi enggak akan lama. Sesudah aku lulus aku akan langsung menjadi bawahan papahku. Dan kamu akan jadi asisten pribadiku.
Thanks ya Cit atas restumu ini.
Dan maafin aku karena ngasih tahu kamu mendadak banget. Soalnya semalem baru di kasih tau. Aku berangkat besok. Doakan aku Citra.dan semoga kita bisa segera bertemu lagi.


Akhirnya kumenemukanmu
Gadis pujaan hatiku
Engkaulah pengubah hidupku
Dan kuharap kita akan bersatuselalu.

Salam cinta dariku:
Irawan.
*****

0 comments:

Posting Komentar

mohon untuk mengisi komentar